1. Pencetusan Faktor Habibie atau Teori Habibie
Dengan teori ini, industri pesawat bisa:
- Memiliki wilayah terbang yang lebih jauh karena pesawat memiliki daya angkut yang lebih besar.
- Resiko pesawat jatuh lebih rendah.
Faktor Habibie dirumuskan ketika beliau masih berusia 32 tahun. Penemuan ini yang membawa Habibie menduduki jabatan wakil presiden perusahaan kedirgantaraan Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB) di tahun 1969.
2. Pengembangan Pesawat NC 212-I NC-235, N-250, dan R-80
Ketika Bapak BJ Habibie mengepalai PT. Dirgantara Indonesia yang dulunya bernama PT. IPTN, kontribusi besar pertamanya adalah pesawat NC 212-I yang merupakan pesawat andalan PT. DI yang berkapasitas 24 orang dan sudah memiliki teknologi auto pilot.
Kontribusi keduanya adalah CN-235 yang dirancang dan dibangun oleh insinyur-insinyur Indonesia bekerjasama dengan perusahaan Spanyol, CASA. Saat diperkenalkan di tahun 1988 beberapa negara tertarik untuk membelinya sebagai pesawat tempur dan sejumlah 285 pesawat N-235 telah berhasil dijual ke seluruh dunia.
Pada tahun 1995, beliau sukses memimpin pembuatan N-250 Gatot Kaca yang berkapasitas 50-60 kursi dan sudah dapat terbang tanpa mengalami oleng (atau Dutch Roll) yang berlebihan. N250 menjadi satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang menggunakan teknologi Fly by Wire. Pada saat itu N-250 sudah hampir masuk ke sertifikasi Federal Aviation Administration dan bersiap masuk pasar Amerika Serikat dan Eropa. Namun karena Indonesia mengalami krisis, maka IMF meminta syarat untuk penutupan proyek N-250.
Pada tahun 2015 silam, beliau merancang sebuah pesawat baru dengan nomor seri R80. R80 dirancang lebih besar dari N-250 dengan kapasitas hingga 90 orang dan teknologi yang lebih maju serta hemat bahan bakar. Rencananya R-80 akan mulai diproduksi tahun 2024.
3. Pendirian The Habibie Center
The Habibie Center merupakan badan strategis independen, non pemerintah, dan non profit bentukan Habibie pada tahun 1998. Lembaga ini bergerak untuk ikut memajukan demokrasi modern dan mendorong perlindungan Hak Asasi Manusia. Dengan visi untuk memajukan usaha modernisasi dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas dan integritas budaya dan nilai-nilai agama.
Habibie Center memiliki kontribusi yang cukup besar pada dunia akademisi sosial-politik Indonesia karena dua misinya, yaitu:
1) Menciptakan masyarakat demokratis secara kultural dan struktural yang mengakui, menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mengkaji dan mengangkat isu-isu perkembangan demokrasi dan hak asasi manusia.
2) Memajukan dan meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia dan usaha sosialisasi teknologi.
4. Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)
Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) didirikan pada 2 Agustus 2013 di kediaman B.J Habibie. Pendirian ikatan alumni ini mendukung kepedulian Habibie terhadap kemajuan SDM Indonesia untuk bidang sains dan teknologi.
Ikatan Alumni ini terdiri dari lulusan SMA terbaik di Indonesia pada tahun 1982-1996 yang berjumlah lebih dari 1.500 orang. Pada waktu itu 1.500 orang ini dikirim oleh mendiang BJ Habibie untuk melanjutkan S-1 di bidang Sains dan Teknologi diantaranya di Jerman, AS, Perancis, Belanda, Inggris, Australia, Kanada, Austria dan Jepang. Beasiswa ini dulu merupakan inisiatif beliau ketika masih menjabat Menteri Riset dan Teknologi.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar